Tampilkan postingan dengan label AIYEP 2010-2011.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AIYEP 2010-2011.... Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Saman Dance

One of the activities during AIYEP 2010-2011 was Culture Performance (CP), we're AIYEPers had to perform some of Indonesian cultures such as traditional dances, songs and games. One of the traditional dances that we performed was Saman Dance;

From left; Andrio (Riau), Ferdiyansyah (Bengkulu), Arozak Salam (West Java), Me *Ali Murtadhonuri (Central Java), Ridhwan Riza (Jakarta)

Saman (or dance of thousand hands) is one of the most popular dances in Indonesia. Its origin is from the Gayo ethnic group from Gayo Lues and is normally performed to celebrate important occasions. This dance is done by a group in one line (sometimes with some displacement) and dancers perform while kneeling.

On November 24, 2011 UNESCO officially recognized Aceh's traditional Saman Dance as an intangible element of world cultural heritage, which needs UNESCO's urgent protection. The ASEAN Tourism Association (ASEANTA) named on Saman Dance as the best ASEAN cultural preservation effort at the 25th ASEANTA Awards for Excellence 2012.

We performed Saman in so many places, here's the list;
  • Australian Embassy (Jakarta, Indonesia)
  • Harristown State High School (Toowoomba, Australia)
  • Browns Plains (Brisbane, Australia)
  • St. Pattrick (Brisbane, Australia)
  • Park Ridge (Brisbane, Australia)
  • Boronia (Brisbane, Australia)
  • Youth Hotel, YHA (Noosa, Australia)
  • St. John (Roma, Australia)
  • Roma Citizen Senior (Roma, Australia)
  • Roma Bowls Club (Roma, Australia)
  • Big rig (Roma Australia)
  • SMA 1 Wangi-Wangi (WAKATOBI, Indonesia)
  • Yayasan Babusalam (WAKATOBI, Indonesia)
  • SMP 1 Wanci (WAKATOBI, indonesia)
  • SMK 3 Kendari (Kendari, Indonesia)
  • SMA 4 Kendari (Kendari, Indonesia)
  • SMP 1 Kendari (Kendari Indonesia)
  • Australian Ambassador House (Jakarta, Indonesia)
Here's the lyrics of Saman Dance, special for you who interested in learning Saman;

Salamualaikum

Kamoe ucapkan

Keu bandum rakan

Jame ban teuka

Salamualaikum

Po intan buleun

Kamoe bri saleum

Keu wareh lingka

Jame ban teuka

Karena saleum

Nabi kan sunnah

Jaro ta mumat selamat

Syarat mulia

Nyawong

Nyawong geutanyoe didalam badan

Barang pinjaman si at Tuhan bri

Otrok bak wate ka geucok pulang

Nyawong lam badan Tuhan pe cre bre

Huts kalahuts

Huts kalahuts manna manan 2X

Jo ampun tengku raja

Sijumpe mileh si uleh karolah anan

Hai jala

Hai jala tun mile la mile jala tun 2X

Hai burek melaboh rong ateh

Rong gunong lah ombak

Cabang gunong lom aneuk-aneuk lhe kua

Hae

Hae Allah u ala eha

Han geteum rilla la putro

Ware han… han geuteum.. han geuteum rilla…

Hai LaHot sa

Hai lahot sa

Ila laombakmeu

Alon kapai di

Ek tren melumbeu

Hai bacuteuk

Salah bukon sa

Lah lon away (salah) me

Lah phon awak bak(di) gata

Hai peuraho raya

Bungka u sabang

Kapatah tiang

Tamong kuala

Hei menyoe na

Gaseh di uloen

Na nyeum bek cut bek

Lekang geu tanyoe dua


Senin, 13 Februari 2012

Acara Perpisahan Dubes Australia dengan Peserta Program Pertukaran Pemuda Australia-Indonesia

Peserta AIYEP 2010 sedang menikmati jamuan di rumah Duta Besar Australia untuk Indonesia

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, akan menyelenggarakan resepsi perpisahan malam ini bagi para peserta Australia dan Indonesia dalam Program Pertukaran Pemuda Australia-Indonesia 2010-11 dan mengucapkan selamat kepada mereka atas program yang berhasil diselenggarakan dengan baik di Australia maupun Indonesia.

“Program pertukaran pemuda ini memainkan peran penting dalam meningkatkan saling pengertian antara kedua negara, khusus pada tingkat antar-warga. Saya yakin bahwa anda telah memperoleh manfaat dari kesempatan yang unik ini untuk terlibat dan bekerja sama sebagai duta muda untuk negara anda,” tutur Dubes Moriarty.

Tahap Indonesia dari program tersebut memberi kesempatan kepada para peserta untuk tinggal dan bekerja di tengah masyakarat Wakatobi di Sulawesi Tenggara dan membantu melaksanakan sejumlah proyek pengembangan masyarakat di berbagai tempat seperti kesehatan, pendidikan, pariwisata dan pengelolaan limbah. Kegiatan yang menonjol termasuk karnaval olahraga Hari Australia dan kegiatan kebersihan desa. Selama kegiatan tersebut para peserta mengembangkan hubungan yang kuat dengan masyarakat setempat dan persahabatan yang erat dengan mitra pertukaran pemuda mereka.

Peserta AIYEP 2010 sedang menunjukkan tarian Saman di depan Duta Besar Australia untuk Indonesia dan para tamu undangan

Peserta program dari Australia Charlotte Wheatley berujar, “Saya merasa tersentuh dengan kehangatan dan antusiasme yang kami terima yang diperlihatkan oleh masyarakat setempat di Wakatobi. Saya yakin kami akan memperoleh sahabat yang lestari dari pengalaman ini dan pemahaman dan rasa hormat yang lebih baik terhadap budaya kedua negara. Salah satu pengalaman menarik bagi saya adalah kesempatan untuk ambil bagian dalam Kabuenga, upacara tradisional Wakatobi untuk mencari pasangan hidup.”

Tahap Australia dari program ini berakhir pada Desember 2010 dengan kesempatan untuk tinggal selama dua bulan dan penempatan kerja di Brisbane dan Roma, Queensland untuk para peserta Indonesia.

Program pertukaran pemuda ini adalah program tahunan untuk memajukan hubungan antar-warga antara penduduk Australia dan Indonesia dan dikelola oleh Lembaga Australia-Indonesia dan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Sumber:

http://www.indonesia.embassy.gov.au/jaktindonesian/SM11_014.html

Pemuda Indonesia Tinggal dan Bekerja di Negara Bagian Australia Queensland

Peserta Indonesia untuk Program Pertukaran Pemuda Australia-Indonesia (AIYEP) hari ini akan mulai menjalani program pertukaran pemuda di Australia yang akan memberi mereka kesempatan untuk tinggal dan bekerja di Negara Bagian Australia bagian utara Queensland.

Kelompok tersebut mengikuti acara perpisahan di Kedutaan Besar Australia kemarin. Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia, Paul Robilliard, berujar ia “berbesar hati dengan antusiasme mereka untuk menyambut pengalaman tersebut guna memperdalam pemahaman tentang kebudayaan dan cara hidup Australia”.

“Program yang memikat dan sangat berhasil ini fokus pada para pemuda kita guna mengembangkan hubungan yang telah berlangsung lama dan lestari antara kedua negara kita. Kerja sama erat pada tingkat ini merupakan salah satu cara yang praktis di mana Australia dan Indonesia bekerja sama, sebagaimana mestinya tetangga dan mitra yang dekat,” tutur Robilliard.

Selama tinggal di Queensland para peserta akan terlibat dalam program tinggal dan bekerja selama dua bulan di Brisbane dan Roma, suatu masyarakat pertanian yang terkenal dengan produksi gandum dan wolnya. Ini merupakan kali kelima AIYEP diadakan di Queensland.

Peserta Indonesia kemudian akan bertemu dengan mitra Australia mereka di Queensland sebelum bersama-sama kembali ke Indonesia dan melakukan program yang sama di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada Desember 2010 hingga Februari 2011. Selama jangka waktu tersebut mereka akan membantu proyek pembangunan masyarakat setempat.

Didirikan pada 1982, AIYEP adalah program tahunan yang memajukan hubungan antar-warga dan memberi pemuda dari Indonesia dan Australia kesempatan untuk memahami lebih baik dan menghargai keanekaragaman budaya dan cara hidup negara lain. Program ini dikelola oleh Lembaga Australia-Indonesia (AII) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Informasi lebih lanjut tentang program ini tersedia di:

http://www.dfat.gov.au/aii/scholarship_program/youth_exchange_program.html

Sumber:

http://www.indonesia.embassy.gov.au/jaktindonesian/SM10_086.html


Kamis, 03 Maret 2011

A to the Z of AIYEP 2010-2011... Part 1

Inilah rangkuman singkat perjalanan Saya (Ali Murtadhonuri) mengikuti Program pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) atau Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) 2010-2011 yang begitu panjang dan penuh kenangan serta sarat akan pelajaran hidup yang begitu luar biasa, dahsyat, yes, yes, yes... :)


1. Seleksi

Ini dia awal dari kisah AIYEP ataupun Program PPAN yang lainnya... Ratusan Pemuda (Quota tahun ini untuk jawa tengah khusus untuk laki-laki) bersaing secara ketat guna memperebutkan satu kursi ke Australia dan satu kursi naik kapal pemuda ASEAN Nippon Maru... *udah kaya DPR aja pake kursi... :p

FYI: untuk tahun 2010 ada sekitar 100 Pemuda dari seluruh wilayah di Jawa Tengah dan dari berbagai universitas pula... UNSOED salah satunya *promosi :p

Gambar 01



Ini adalah suasana pemeriksaan kelengkapan berkas dan persyaratan sebelum ikut seleksi PPAN... *Menegangkan karena ini adalah pintu masuk menuju PPAN :)


Gambar 02



Setelah berkas dan persyaratan dinyatakan lengkap, sekarang saatnya mengisi blangko yang berisi data diri... *Tambah tegang... :p

Gambar 03



Okelah, data diri sudah selesai ditulis... Sekarang kita masuk ke seleksi tertulis, tapi sebelum itu ada pengarahan dari pihak DISPORA Propinsi Jawa Tengah... *Lebih tambah tegang... :p

Gambar 04



Maaf nih ceritanya loncat karena dokumentasi pas lagi seleksi tertulis dan wawancara ga ada... :p
Ini adalah saat-saat dimana sebentar lagi bakalan diumumin siapa yang berhak mengikuti AIYEP dan SSEAYP... *lebih tambah tegang BANGET... :p

Gambar 05



Toreng... Toreng... Toreng...

Dan Juara 1 untuk Program AIYEP 2010-2011 adalah...


Ali Murtadhonuri
Perwakilan dari kabupaten Brebes


"INNALILLAHI WA INNAILAIHI ROJIUN"


ALHAMDULILLAH... :)



*TEGANGNYA langsung ILANG... :p



FYI: Untuk SSEYAP 2010-2011 adalah Arief Rizky Bakhtiar (Abe)




BERSAMBUNG...


ke Part 2 yah... :)

Kamis, 18 November 2010

AIYEPers Gempur St. Pattrick’s

Culture Performance merupakan salah satu dari sekian banyak program yang dijalani oleh AIYEPers diantara program-program lainnya seperti Host-fam dan Workplacement. Kegiatan ini dilakukan sebagai ajang sarana promosi khasanah budaya Indonesia yang sangat beraneka ragam, melalui Culture performance ini nantinya diharapkan akan tumbuh semangat siswa-siswi dari masing masing sekolah yang telah kami datangi dan warga negara Australia pada umumnya untuk belajar tentang Indonesia lebih dalam.

Setelah harry’s town, parkridges dan Browns Plains state high school berhasil digempur oleh AIYEPers’10, kini tibalah saatnya St. pattrick’s College untuk menyaksikan kedahsyatan penampilan Culture Performance 18 pemuda-pemudi terbaik bangsa yang terpilih dari masing-masing propinsi di Indonesia. Ya, hari ini Senin 08 November 2010 bertempat di St. Pattrick’s College yang beralamat di 60 Park Parade, Shorncliffe, Queensland AIYEPers akan mencoba memberikan suguhan Culture Performance terbaiknya di sekolah yang semua siswanya adalah laki-laki, karena sekolah ini merupakan sekolah khusus laki-laki… *AIYEPers cewe pada girang tuh… lol… yang cowo juga ada yang kegatelan… lol... lol*. Tepat pukul 13.00 WIB (Waktu dI Brisbane) AIYEPers tiba di St. Pattrick’s, Culture Performance nya akan dilaksanakan pada pukul 14.00 jadi kami masih punya waktu satu jam untuk menjelajah sekolah, lunch dan GR… detik demi detik berlalu tak terasa kami sudah melalui 216000 detik untuk menuju The Best Show Ever_Culture Performance Of AIYEP 2010-2011.

“Welcome to the culture performance of AIYEP 2010-2011” Sang MC cowo pun mulai membuka acara, “Selamat datang di pertunjukan seni AIYEP 2010-2011” MC cewe pun ga mau kalah buat menyapa siswa-siswa st. pattricks. Sebelumnya AIYEPers menampilkan Fashion Show dimana 18 delegasi dari masing-masing propinsi berlenggak-lenggok bak model yang sedang berjalan di cat walk mengenakan baju adat mereka, setelah itu tanpa jeda penampilan dilanjutkan dengan yel-yel kreasi AIYEP’10. Yel-yel selesai di nanyikan duo MC maut (ALAY… ALi dAn lennY) mulai mengambil alih acara, mereka menyapa semua penonton dengan gayanya yang sangat khas dan sangat bersemangat. Menjadi tugas MC untuk menjaga agar penonton tetap tertarik dengan apa yang kita bawakan oleh karena itu acara ini dikemas semenarik mungkin, setelah menjelaskan secara singkat apa itu AIYEP kini tibalah saatnya untuk Medley Nusantara, dalam medley nusantara ini terdapat lima lagu daerah dari Indonesia yang digabung menjadi satu dalam konsep paduan suara yang lebih menonjolkan harmonisasi dari setiap nada-nadanya… kelima lagu tersebut adalah; Janger dari Bali, Rek Ayo Rek dari Jawa timur, Cublak-Cublak Suweng dari Jawa Tengah, Tokecang dari Jawa Barat dan Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan Selatan. Suara tepuk tangan pun terdengar membahama di aula st. pattrick’s, penonton pun terkagum melihat dan mendengar medley nusantara yang begitu indah mengalun… thanks to Arozak Salam atas gubahan lagunya yang begitu DAHSYAT *lebay… . Okelah, sebelum acara dilanjutkan MC membuat game untuk para penonton agar mereka tidak jenuh… game yang dipilih adalah Cublak-Cublak Suweng, dalam game ini ada lima pemain yang satu akan berlutut dan empat yang lain akan berusaha menyembunyikan sesuatu nah tugas orang yang menutup mata adalah menebak diamana sesuatu itu berada, kalo jawabannya benar berarti orang memegang sesuatu tersebut harus berlutut dan gantian menebak tapi jika jawabannya salah maka dia harus berlutut lagi dan begitu seterusnya… Setelah game selesai, kini saatnya AIYEPers memukau penonton dengan tarian andalannya yaitu SAMAN, melalui tarian ini kami bisa membius semua penonton di aula st. pattrick’s… mulai dari masuk, salam, gerakan pembuka, nyawong, huts kala huts, hailaotsa sampai gerakan penutup… mereka benar-benar terpesona dengan keseragaman dan kekompakan dari tarian SAMAN yang dibawakan oleh AIYEPers… tepuk tangan pun kembali menggema, wajah mereka menunjukkan ekspersi kagum yang sanagat luar biasa. Tak cukup dengan SAMAN, AIYEPers pun kembali unjuk gigi dengan tarian RAPAI GELENG… tarian yang masih sama-sama berasal dari Aceh ini menggunakan rebana sebagai pelengkap dalam gerakannya. Perbedaan tari ini dengan saman selain dari rebana dan gerakannya yaitu perbedaan jumlah penarinya… kalo saman semua AIYEPers berpartisipasi tapi dalam rapai geleng ini hanya dimainkan oleh 7 orang saja (Riza, Sari, Rio, Indah, Erik, Ferdy dan Ali), kombinasi antara ritme rapai yang dimanis dan gerakan geleng yang cepat menjadikan tarian ini sangat akteratif, penonton dibuat terdiam dengan kombinasi antara musik dan kecepatan serta keserasian gerak. Sekali lagi aula st. pattrick’s benar-benar ramai dengan tepukan tangan dan suara penonton yang benar-benar terhibur… Dan untuk penampilan pamungkas AIYEPers 2010-2011 menyuguhkan kekhasan nada-nada dan harmonisasi dari instrument angklung yang sangat apik di bawakan oleh 10 AIYEPers dan Arozak salam sebagai pemimpin orkestranya, mereka membawakan lagu yang berjudul I Have A Dream yang di populerkan oleh Westlife, keserasian nada dan ketepatan membunyikan angklung menjadikan suguhan terakhir ini menjadi begitu dramatis karena lagu yang mereka bawakan sangat penuh makna dimana ketika kita punya mimpi maka terus kejarlah mimpi itu dan yakinlah bahwa mimpi itu akan terwujud nyata.

Culture Performance AIYEP 2010-2011 pun selesai, kami berharap dengan adanya acara ini para siswa di St. Pattrick's akan lebih giat lagi mempelajari semua tentang Indonesia.

BALL'S FAMILY

Setelah satu minggu masa orientasi di YHA bersama Deane, Adam, Tom dan temen-temen AIYEP yang lainnya kini tibalah saatnya aku memulai program AIYEP yang berikutnya yaitu Host-Fam. Perasaan sebelum bertemu host-fam benar-benar tidak karuan, satu sisi aku kan bertemu keluarga baru tapi di sisi lain aku harus berpisah sejenak dengan teman-teman AIYEP yang lain *memang lebay sih, tapi perasaan ini benar-benar terjadi*. Dua hari sebelum aku bertemu dengan host-fam ku Adam (assistennya Deane) memberitahukan siapa host-fam ku bagaimana kehidupan mereka dan apa saja yang harus dilakukan selama host-fam nanti. Alhamdulillah aku dapet host-fam yang sangat baik, mereka adalah sepasang suami istri yang tinggal di sebuah pemukiman yang cukup jauh dari kota brisbane, Murrumba Downs adlah tempat dimana tinggal. Mereka adalah Philip Ball (59 tahun) dan Majella Ball (52 tahun), mereka mempunyai dua orang anak; Veronika Ball (30 tahun) dan Jason Ball (25 tahun), Jason anak kedua mereka telah minikah dan mempunyai rumah sendiri sedangkan Veronika masih berstatus single sampai saat ini dan dia beberapa hari sekali menghabiskan waktu di rumah orang tua nya. Philip Ball atau yang biasa aku panggil Dad bekerja sebagai CEO di Harcourts seuah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan perumahan dan Majella Ball atau Mom adalah seorang pekerja pemerintahan. Yang aku suka dari kelurga ini selain dari kehangatan yang mereka berikan adalah tidak ada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing yang notabene dua binatang tersebut adalah binatang-binatang yang cukup membuat aku histeris jika melihatnya, mereka hanya punya seekor marmut kecil yang hidup di dalam kandang dan tidak pernah dilepas keluar kandang; Monty adalah nama binatang tersebut. Sayangnya Dad aku itu alegi sama bawang, baik bawang merah ataupun bawang putih jadi setiap makanan yang mom ku buat itu pasti tidak ada campuran bawang merah atau bawang putih.Untuk Host-fam fase kota ini aku bareng satu rumah dengan Erik Stanley AIYEP delegasi Jawa Timur, kami berdua dapat kamar terpisah; aku punya kamar sendiri begitu pula denga Erik, tapi karena aku taku tidur sendiri *MEMALUKAN* akhirnya aku minta Erik buat tidur sekamar dengan aku satu tempat tidur, awalnya kami takut buat minta ijin karen kami tahu bahwa di Australia laki-laki tidak boleh tidur sekamar dengan laki-laki karena nanti mereka dikira homo namun akhirnya kami bisa menyakinkan Mom dan Dad bahwa kami tidak akan berbuat macam-macam dan hal sperti ini adalah hal yang sangt lumrah di Indonesia.


Hari pertama Host-fam adalah hari dimana kita harus beradaptasi dengan lingkungan Australia yang baru yang begitu nyata kami rasakan, mulai dari bahasa yang benar-benar membuat kami pusing dan hanya bisa tertawa dengerinnya sampai makanan yang setiap pagi disajikan adalah toss (roti bakar) dan cereal.Tidak banyak yang kami lakukan di hari pertama, kami hanya mencoba untukmengenal lebih dalam satu sama lain, Mom dan Dad mengenalkan kepada kami anggota keluarga mereka yang lain walaupun hanya lewat foto kemudian mereka memberitahukan kepada kami cara menggunakan mesin cuci, cara mengeringkan pakaian, cara menggunakan shower di kamar mandi dan beberapa hal sederhana yang kami belum tahu, di hari pertama pula Dad mengajari kami cara berenang yang baik; kemampuan berenang Dad cukup bagus, dia bisa bolak-balik berenang dengan sekali menghirup udara sedangkan kami harus berkali-kali berhenti hanya untuk bernapas. Hari kedua dan seterusnya bisa di bilang aktifitas kami sama, bangun di pagi hari sekitar jam 6 terus siap-siap ke tempat magang di kota yang berjarak 40 menit menggunakan kereta sebelumnya kita harus nunggu bus yang datang pukul 07.11 waktu Brisbane, tak lupa Mom selalu membekali kami dengan sandwich dan buah sebagai bekal makan siang kami.


Waktu efektif kami untuk berkomunikasi dan sharing adalah saat dinner atau makan malam, dimana saat dinner adalah saat-saat dimana kami bisa berbagi kisah tentang apa saja yang sudah terjadi selama seharian penuh, Mom selalu memasakkan kami berbagai macam makanan dan selalu berbeda setiap malam; mulai dari BBQ, sosis panggang sampai mie instant pernah Mom buat untuk kami, kami merasa sangat di sayangai oleh keluarga Ball, bagaimana tidak di tengah aktifitas mereka yang segudang mereka masih sempat membuatkan makan malam untuk kami. Kami banyak bertukar pikiran di waktu dinner, bertanya banyak hal dan berbagi informasi tentang indonesia dengan segala keaneka ragamannya. Tak jarang Mom dan Dad bertanya pada kami tentang hal-hal sepele tapi membutuhkan jawaban yang cukup diplomatis misalnya di suatu dinner dad bertanya "Kenapa anak muda sekarang senang sekali bermain FB atau berbagai macam jejaring sosial lainnya???", hal-hal seperti ini yang membuat kita terkadang tersentak tapi untungnya ketika kami kesulitan menjawab mom selalu ada untuk membantu kita.


Ada beberapa ketimpangan budaya yang terjadi selama Host-fam bersama keluarga Ball, dari hal-hal kecil saja seperti; cara nge-flash setelah kita pipis atau buang air besar ternyata tidak boleh ditekan terlalu sering tombol flashnya karena akan menghabiskan banyak air, kemudian Dad memberitahu kalo mau nge-flash tunggu flash yang pertama selesai dan tidak terdengar bunyi lagi berarti itu kita boleh nge-flash lagi dan begitu seterusnya. Mom dan Dad bukanlah manusia sempurna, mereka juga manusia biasa yang bisa marah; ada satu kejadian yang benar-benar membuat mereka marah yaitu saat dimana kami pulang terlalu malam dan mereka harus menjemput kami di stasiun kereta, sebelumnya kami sering pulang malam tapi tidak selarut malam itu, kami tiba di rumah pukul 23.20, Mom dan Dad bilang kepada kami bahwa ini ada;ah kali terakhir mereka menjemput kami, mereka menganggap pulang terlalu malam tidak baik untk kami dan untuk mereka karena itu adalah saat-saat diamana mereka harus tidur untuk melepas lelah setelah seharian bekerja.


Namun dapat dikatakan kami sangat menikmati host-fam bersama keluarga Ball karena kami merasakan perbedaan yang nyata terhadap apa yang ada di benak kami tentang orang-orang Australia, dibalik sikap mereka yang individualis mereka juga memiliki rasa kasih sayang yang begitu dalam terhadap sesamanya, kami yang notabene adalah pendatang baru di Australia merasa sangat di hargai dan benar-benar di kasihi oleh orang-orang Australia, bagaimana tidak? ketika kami akan berangkat ke kantor Mom dan Dad selalu sudah bangun hanya untuk menyaksikan kami berdua benar-benar berangkat ke kantor tepat pada waktunya. I'LL CHERISH ALL OF THESE MEMORIES BALL FAMILY... :)

Rabu, 25 Agustus 2010

Tentang AIYEP...

AIYEP SELAYANG PANDANG

The WHAT, WHO, WHERE, WHEN, WHY, HOW, and SO WHAT? About AIYEP


Tulisan ini tercipta atas dorongan yang besar dari kami, AIYEPers 2008, untuk berbagi. Tadinya kami ingin menunggu kesempatan netcon (internet conference, bagi yang belum tahu) untuk memberi informasi tentang AIYEP. Tapi karena anggota milis 2009 baru sedikit, sepertinya ide netcon menjadi tidak efektif. Jadi kami buatlah tulisan ini, agar ketika ada anggota baru masuk, bisa langsung mengakses file tulisan ini dan (mudah-mudahan) bisa sedikit terbantu, tanpa kami harus menginformasikan ulang.

Dalam tulisan ini, kami akan membahas AIYEP secara umum. Tujuannya untuk memberi gambaran mengenai 4 bulan yang akan teman-teman hadapi selama program nanti. Boleh dijadikan guide juga kalau memang dirasa relevan. Tapi perlu diingat, tulisan ini murni catatan dari kami AIYEPers 2008. Mudah-mudahan ini adalah penerjemahan yang jujur atas pengalaman kami, realistis, tidak muluk, dan tanpa maksud menggurui atau memberi harapan yang terlalu tinggi.

Tapi, kalau mau liat definisi AIYEP yang ideal, ya ntar liat aja brosur dari Menpora, hehe.

*******

WHAT?

AIYEP (Australia-Indonesia Youth Exchange Program), seperti namanya, adalah program pertukaran pemuda antar negara Indonesia dengan Afrika Selatan. Salah. Ya jelaslah Australia. Program ini memungkinkan para peserta untuk mengacak-acak negeri orang secara gratis. Salah lagi.

Baik. Ini bagian seriusnya.

Program ini secara periodik terselenggara berkat kerjasama pemerintah Indonesia dan Australia. Di Indonesia, AIYEP dikoordinir oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora) bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga dan Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) di setiap provinsi. Sementara di Australia, AIYEP ada di bawah tanggung jawab Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), dikoordinir oleh Australia-Indonesia Institute (AII), dan operasionalnya dijalankan oleh The Communication Network (TCN).

Ngomong-ngomong, apa itu PCMI? In case ada yang belum tau, PCMI adalah organisasi bagi para alumni yang telah melaksanakan program-program kepemudaan yang diselenggarakan oleh Menpora. Program-program tersebut antara lain PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara à Australia, Kanada, Malaysia, ASEAN-Jepang), PPAP (Pertukaran Pemuda Antar Provinsi), Paskribraka, dsb.

Sekali lagi, kalau mau tau yang detil, baca aja brosur Menpora ^^v

Tujuan utama dari program ini adalah untuk menguatkan hubungan kedua negara (secara kultural maupun diplomatik) melalui people to people contact para pemudanya. Elemen “people to people contact” adalah salah satu hi-lite dalam AIYEP. Selama program berlangsung, proses interaksi, komunikasi, dan sosialisasi peserta dengan orang-orang yang terlibat selama program menjadi kunci sekaligus parameter keberhasilan program ini.

Hi-lite lain yang juga penting dalam program ini adalah soal cross cultural understanding alias kesepahaman antarbudaya. Selama program berlangsung, peserta akan bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Karenanya, sangat penting bagi peserta untuk mencapai kesepahaman antarbudaya ini dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya. Menjadi keharusan bagi peserta untuk memperkenalkan budaya Indonesia, dan fleksibel memahami budaya lain. Tolong catat bahwa kata “budaya” di sini bukan hanya soal tarian atau lagu daerah. Tapi juga pada level kultural: sikap, gaya hidup, cara berpikir, dsb yang sifatnya lebih mendalam.

Program ini terdiri dari 2 fase: Fase Australia dan Fase Indonesia. Masing-masing fase dibagi lagi ke dalam dua fase, yaitu fase kota dan fase desa.

Biasanya fase Australia dilaksanakan lebih dulu. Di fase Australia, baik di kota maupun di desa, aktivitas utama peserta adalah tinggal bersama keluarga angkat atau hostfamily, kerja magang profesional, dan mempromosikan budaya Indonesia lewat sebuah pertunjukan budaya (cultural performance/CP). Nanti teman-teman akan mendapatkan sebuah kuesioner dari TCN. Melalui kuesioner itu teman-teman bebas menentukan kriteria keluarga angkat dan tempat magang yang teman-teman inginkan. Selain itu teman-teman juga berkesempatan melakukan kunjungan kejormatan (courtesy call) ke tempat-tempat penting yang berkaitan dengan diplomasi kedua negara, misalnya ke DFAT, ke kantor media massa, ke Kedubes atau Konsulat Jenderal untuk Indonesia, kantor Gubernur negara bagian, dan sebagainya.

Pada fase Indonesia, aktivitas akan berbeda. Jika di Australia peserta menjalani fase kota lebih dulu, di Indonesia peserta akan melaksanakan program di desa lebih dulu. Selain itu, peserta kembali ke Indonesia bersama dengan peserta dari Australia. Satu orang peserta Indonesia akan berpasangan dengan satu peserta Australia – yang disebut counterparts, and this is why it’s called “exchange”. Selama fase desa, seluruh peserta Indonesia dan Australia bekerjasama menjalankan sebuah proyek pemberdayaan masyarakat (community development/comdev).

Selesai melaksanakan tugas comdev di desa, peserta dari kedua negara akan menjalankan program di kota, yang aktivitasnya hampir sama dengan di Australia. Di fase Indonesia, baik di desa maupun kota, aktivitas CP, tinggal bersama keluarga angkat, kunjungan kehormatan ke kantor gubernur, walikota, bupati, dsb, tetap ada.

Target yang ingin dicapai oleh program ini, tentu saja terwujudnya hubungan kedua negara yang lebih harmonis. Lebih dari itu, program ini ingin mencetak pribadi-pribadi yang mandiri, dewasa, peduli pada masyarakat, dan professional.

FYI guys, dari 4 program PPAN (AIYEP, IMYEP, ICYEP, dan SSEAYP) milik Menpora, hanya program ini yang pesertanya dilepas begitu saja tanpa keikutsertaan dan bimbingan supervisor program. Begitu selesai PDT, langkah pertama peserta di tubuh Qantas Air, mereka sendirian. Tidak ada pengawasan ketat, tak ada lembar petunjuk teknis pelaksanaan seluruh aktivitas secara rinci selama program.

Meaning to say, those 18 brilliant youths who join AIYEP are the OWNERS, RULES AND DECISIONS MAKERS, and are the only people who can determine MEANINGS of every single thing during this program.

Tapi tenang saja, di setiap fase nanti peserta akan dikoordinir oleh local coordinator, baik di desa maupun kota. Di Australia, local coordinator adalah rekanan AII atau TCN, sementara di Indonesia bisa dari Dispora dan/atau PCMI provinsi setempat.

WHO?

Kriteria untuk para pemuda yang bisa menjadi peserta program ini… silakan ingat-ingat lagi syarat-syarat ketika teman-teman seleksi PPAN di provinsi, hehe. Itu teknisnya, formalnya, hitam di atas putihnya.

Sisanya, program ini membutuhkan manusia-manusia yang berpikiran terbuka, toleran, memiliki daya lentur tinggi terhadap perubahan dan perbedaan, serta tidak menaruh ekspektasi berlebihan terhadap segala sesuatu. You can hope, but expect only what you can expect. We strongly suggest you not to be early-assuming or too demanding, but be prepared for the worst – on anything or anyone. Yeah, we are only human who always want as much as we can get. But believe us, in this program, dreaming too much will give you nothing. Just be realistic. Put your feet on the ground.

Dalam program ini, sangat mungkin terjadi mis-komunikasi, mis-informasi, dan hal-hal lain yang tak terorganisir dengan baik. Pada titik tertentu, masalah ini bisa saja membuat teman-teman hampir gila sampai rasanya pengen nabokin GL (Group Leader), atau lari-lari di lapangan bola sambil teriak-teriak, atau pengen nyuruh local coordinator jalan kayang keliling Balai Kota. Tapi semua bisa teratasi jika dan hanya jika teman-teman bisa fleksibel, sigap mencari solusi, dan cekatan menyusun prioritas.

Selama program berlangsung, peserta akan berurusan dengan banyak orang: keluarga angkat, tetangganya keluarga angkat, rekan kerja, temannya rekan kerja, pemerintah daerah (ketika fase desa), counterpart, pacarnya counterpart, orang-orang lewat, masyarakat desa di fase Indonesia, dan fans yang menggila usai menari Saman pas CP (yeah, you’re the superstars on your stage!). Enjoy those moments, lessons, and experiences. They are worth to remember, you can have our words...

Saat menjalani program, peserta akan memiliki identitas ganda: sebagai individu, dan sebagai anggota tim. Based on this, program ini perlu orang-orang yang mampu mencitrakan dirinya dengan baik. Sebagai si Anu dari provinsi Itu, Indonesia, dan sebagai si Anu, peserta AIYEP dari provinsi Itu, Indonesia. Sikap yang teman-teman lakukan, citra yang teman-teman tunjukkan, akan dinilai jamak alias digeneralisir sebagai citra dan sikap AIYEP, provinsi, dan negara. So, be wise.

WHERE?

Seperti sudah diulas sedikit di atas, pelaksanaan program akan dilaksanakan di dua negara. Hanya sayangnya kami belum mendapat informasi jelas di mana lokasi yang pasti untuk penyelenggaraan tahun ini. Jadi, mari kita tunggu saja yah.

Perlu kami beritahukan, pada penyelenggaraan AIYEP 2008, Menpora sedang mencoba konsep baru terutama di pelaksanaan fase desa Indonesia. Pada tahun-tahun sebelumnya, seluruh peserta (yang artinya ada 36 orang, 18 Indo + 18 Oz) ditempatkan di desa yang sama. Sementara tahun 2008 lalu, seluruh peserta dibagi dua dan ditempatkan di desa yang berbeda. Masing-masing desa terdiri atas 9 peserta Indo dan 9 peserta Oz. Alasannya adalah agar misi pemberdayaan masyarakat bisa tersampaikan dengan lebih luas dan beberapa pertimbangan lain.

Ada beberapa evaluasi mengenai konsep ini, dan belum bisa dipastikan juga apakah AIYEP 09*10 akan menggunakan konsep split peserta juga di fase desa Indonesia. Jadi, sekali lagi, mari kita tunggu saja…

WHEN?

Biasanya AIYEP dilaksanakan di pertengahan bulan Oktober hingga pertengahan Februari. Sementara PDT (Pre Departure Training) dilaksanakan di minggu pertama Oktober.

Sekitar dua bulan pertama akan dijalani di Australia: 1 minggu orientasi, 3 minggu fase kota, 5-7 hari mid-visit break, 3 minggu fase desa, 3-4 hari orientasi dengan counterpart.

Sementara sisanya akan dihabiskan di Indonesia, diawali dengan 2-3 hari re-orientasi di Jakarta. Lagi-lagi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, AIYEP 2008 menghabiskan waktu 5 minggu comdev di desa, 3 hari mid-visit break, 2 minggu fase kota (biasanya 3-4 minggu di desa, 3 minggu di kota), dan 3 hari closing program di Jakarta lagi.

Kembali kami belum bisa memastikan bagaimana alokasi waktu untuk AIYEP 09*10. Maka, lagi-lagi, mari kita tunggu saja (ini udah ketiga kalinya ya? Udah bisa dapet gelas cantik nih, hehe..)…

WHY?

Kenapa harus ada AIYEP di dunia? Kenapa harus Menpora? Kenapa harus Australia? Kenapa teman-teman harus mempersiapkan diri dengan baik? Kenapa harus ada pembekalan di PDT segala? Kenapa kami harus susah-susah bikin catatan ini? Kenapa harus ada pertanyaan kenapa?

Karena hidup ini penuh misteri, kawan.

Satu, AIYEP menjadi program tahunan Menpora karena kementerian ini mengurusi perkara kepemudaan dan bukan bakul jamu. Misi luhur dari program ini adalah mencetak pemuda-pemuda yang memiliki kualitas, daya saing, kebanggaan sebagai orang Indonesia, dan bisa memberi kontribusi pada negeri tercinta ini. Sebab pemuda-lah pewaris tunggal bangsa ini. Hanya para pemuda yang memiliki persediaan jam, tahun, dan abad. Maka diperlukan generasi bijak yang bisa menjadi penerima tongkat estafet negara ini kelak (kalo nggak keburu kiamat sih, hehe)..

Dua. Kenapa harus Australia? Coz Indonesia is unique, so is Australia. Negara yang dipilih untuk program pertukaran ini memang haruslah negara yang keunikannya bisa menyaingi Indonesia, hehe. We are nearby but we are different. Besides, diplomatic relationship between these two countries is also unique. Tugas AIYEP adalah menjadikannya tetap unik namun lebih efektif dan produktif.

Tiga. Persatuan Indonesia.

HOW?

In short, cara Menpora bekerja untuk mendapat output pemuda-pemuda handal dan professional adalah, melepas para pemuda harapan bangsa itu selama program, baik di Australia maupun di Indonesia. Dilepas, artinya peserta memiliki kebebasan untuk memanfaatkan kesempatan selama program dengan sebaik-baiknya, dengan caranya sendiri, tapi tentu saja dengan kerjasama tim yang baik. Peserta mungkin memiliki misi pribadi ketika mengikuti AIYEP. Silakan raih mimpi masing-masing, tapi jangan abaikan tim.

Tujuannya adalah agar terbentuk kemandirian dan kedewasaan pada diri para pemuda. Kebebasan untuk melakukan apa pun selama program harus diiringi dengan rasa tanggung jawab yang besar, sebab segala hal membawa konsekuensi tertentu. Juga kesadaran bahwa setiap peserta membawa nama baik negara, AIYEP, provinsi, keluarga, dan dirinya sendiri.

Melalui program ini, diharapkan setiap peserta bisa memiliki atau memunculkan (jika belum memiliki) kemampuan untuk bergantung PADA DIRI SENDIRI (Self-reliance). Ada teman-teman seprogram yang bisa dimintai bantuan, memang. Namun selebihnya, bagaimana peserta memaknai program dan membuat diri bisa menikmati setiap pengalaman, ada di tangan masing-masing peserta. So, be self-motivated!

Bagaimana caranya AIYEP melahirkan pribadi yang mandiri, dewasa, self-reliance, dan self-motivated itu? Dengan kerja magang, tinggal bersama hostfam, melakukan courtesy call, menyelenggarakan CP, memiliki counterpart, dan melaksanakan comdev.

Saat bekerja magang, setiap peserta dituntut untuk proaktif dalam bidang pekerjaannya. Magang adalah kesempatan bagi teman-teman untuk mengasah profesionalitas. Tak jarang, peserta tak diberikan jobdesc yang jelas mengenai perannya selama magang tersebut. Tak perlu resah. Belajar bisa dilakukan dengan cara apapun, baik dengan jobdesc ataupun tidak. Lagipula, secara logis kita tidak bisa mengharap sesuatu yang besar ketika waktu magang hanya 3 minggu, itu pun hanya 8-10 hari kerja efektif (karena dikurangi waktu CP, courtesy call, dan hari kerja di Australia yang hanya 5 hari). Serap saja ilmu apapun yang diminati selama berada di tempat kerja. Jangan lupa, setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

Ketika tinggal bersama host family, fleksibilitas adalah hal utama yang harus dimiliki. Peserta akan tinggal bersama orang asing: berbeda negara, berbeda budaya, dan tak pernah kenal sebelumnya. Awalnya memang agak canggung, tapi jika peserta lentur dalam bergaul, terbuka, honest, dan bisa menjadi diri sendiri, tentu tak akan ada masalah.

Courtesy call adalah kesempatan bagi para peserta untuk menunjukkan identitas keindonesiaan sekaligus nama AIYEP. Umumnya courtesy call sedikit bernada seremonial dan formal. Jadi, dibutuhkan manner dan attitude yang baik untuk bisa memberikan citra Indonesia yang mengesankan di mata orang lain.

Penyelenggaraan CP atau Cultural Performance adalah hal yang juga sangat penting. CP adalah kesempatan bagi teman-teman untuk menunjukkan keragaman budaya Indonesia. Melalui ragam tarian, lagu, atau bentuk-bentuk kesenian lain, teman-teman berkesempatan memamerkan kekayaan Indonesia kepada publik Australia. Mengapa harus dengan cara ini? Karena seni adalah bahasa yang universal untuk berkomunikasi. Namun perlu dipahami bahwa AIYEP bukan kelompok pertunjukan keliling. Bukan pula program bagi para penari. Karenanya tak perlu berkecil hati ketika teman-teman tak memiliki penguasaan kesenian yang outstanding. Yang diperlukan adalah kesungguhan untuk memperkenalkan budaya Indonesia, kepercayaan diri untuk tampil di atas panggung, dan motivasi yang kuat untuk belajar. CP hanyalah alat, sarana, tool, untuk menyampaikan pesan budaya. Pesannya itu sendiri baru akan terpahami oleh orang lain ketika teman-teman memiliki tekad kuat untuk menyampaikannya.

Memiliki counterpart adalah hal yang menarik sekaligus menantang. Masing-masing peserta Indonesia akan dipasangkan dengan peserta dari Australia. Selama menjalani fase di Indonesia, counterpart adalah orang yang akan tinggal bersama teman-teman, melakukan aktivitas bersama, dan sebagainya. Awalnya mungkin agak canggung ketika kita harus berbagi kamar dengan orang asing. Namun sekali lagi itu tak akan menjadi hambatan besar jika kita mau terbuka dan memotivasi diri agar cepat beradaptasi. Counterpart adalah peserta dari Australia, yang juga memiliki keingintahuan besar terhadap Indonesia, sebagaimana kita penasaran dengan Australia. Selama bergaul dengan counterpart, sebisa mungkin kita memberi mereka pemahaman yang benar mengenai segala hal yang mereka pertanyakan. Terkadang ada counterpart yang susah beradaptasi dan tidak terlalu terbiasa dengan kultur Indonesia. Kita bisa membantu dan memotivasi mereka agar bisa lebih nyaman menjalani program. Lebih dari itu, kedudukan kita dengan counterpart adalah setara. Jadi kita bukan guide atau penerjemah bagi mereka. Ajak mereka untuk belajar bahasa Indonesia agar mereka juga mudah beradaptasi bilamana kita sedang tak bisa membantunya. Lagipula, umumnya peserta Australia sudah pernah berkunjung ke Indonesia, jadi ini lebih mudah bagi kita maupun mereka.

Selama fase desa di Indonesia, seluruh peserta dari kedua negara harus menyelesaikan sebuah proyek pemberdayaan masyarakat (community development/comdev). Untuk comdev ini, biasanya Menpora dan pihak kedubes akan melakukan survey terlebih dahulu untuk melihat potensi desa tersebut. Jika sudah mendapat data, maka peserta akan dibekali dengan berbagai informasi mengenai desa tersebut dan apa saja potensinya. Dengan begini, peserta bisa memutuskan proyek-proyek apa saja yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi masyarakat desanya. Hal-hal yang diperlukan dalam fase ini adalah kemampuan bernegosiasi, baik terhadap peserta satu sama lain, terhadap warga desa (karena biasanya muncul ekpektasi yang terlalu tinggi dari warga setempat kepada program ini – dan para peserta), juga terhadap pemerintah daerah setempat. Penting diketahui bahwa di sini para peserta akan berurusan dengan banyak elemen budaya. Pertama, desa yang dijadikan lokasi mungkin saja terletak di provinsi yang akar budayanya sangat berbeda dengan peserta Indonesia. Kedua, ada warga Australia yang juga jauh lebih tidak tahu mengenai kultur desa tersebut. Sering-seringlah berbagi masalah dalam grup, lalu putuskan apa yang teman-teman bisa lakukan untuk menyelesaikannya.

SO WHAT?

Ya, so what?

Terus kenapa kalau kita sudah tau all about AIYEP?

Be well-prepared. Be resourceful. Be reserved.

Penuhi kantong bekal teman-teman dengan informasi detil apapun sebanyak mungkin. Pastikan otak teman-teman tidak kosong ketika mengikuti program ini, bahkan sejak mulai PDT.

Jika ada di antara teman-teman yang berpikir bahwa program ini hanya untuk mandapat sertifikat dan menambah gengsi ketika melamar kerja, maka selamat datang di dunia orang tak berguna. Kalau cuma nge-print sertifikat dan memalsukan tanda tangan, saya juga bisa. Program ini, JAUH LEBIH BERARTI DARI SEKADAR SERTIFIKAT. Way-way much more!

AIYEP is a once-in-a-lifetime and a life-changing program. Silakan bertanya pada siapapun alumni yang Anda kenal saat ini. Banyak hal berubah dari seorang peserta jika menjalankan program. Perubahannya bisa terjadi saat maupun sesudah menjalani program. Atau mungkin sebelum. AIYEP memang bukan segalanya, namun segala hal dapat terjadi karena program ini.

Banyak pula pelajaran dan pengalaman yang bisa dijadikan guru besar dalam hidup teman-teman. You’ll get that pride. You can use AIYEP certificate to boost up your resume prestige, as well. But above all, you’ll have challenges to deal with. You’ll meet talented persons who’ve been elected, who are the best. For those who had been a participant of another exchange program, well, don’t think AIYEP is similar. It’s totally different.

You’ll learn how to compromise, respect and appreciate other people. You should be concern on each other’s needs and put aside your demand. You’ll learn what “to lead” is, how to be less-emotional or less-temperamental, to deal with conflicts, face a broken heart, or fall in love. You’ll see how “professionalism” needs to be.

Through this program, you’ll get life-lesson about being flexible, embracing change, and assuming nothing (just watch, choose to take or to leave it, then enjoy it). You need to see how to negotiate and be accommodating. You’ll learn how to put your trust to others and be less-individualistic. You’ll feel how being criticized as well as being praised is. There will be a moment when you are slapped by your friends when they tell the truth (you hate them for a while, but next you’ll be grateful).

You’ll get the experiences when a stranger becomes a friend (which is good), an also when a friend becomes a stranger (which is sad). You’ll hate some, and love some. But in the end, all you know is that you need each other.

Rasa kesal dan bosan bisa saja muncul satu sama lain. Itu wajar karena teman-teman berkutat dengan orang-orang yang sama selama 4 bulan. Tapi, sebesar apapun rasa kesal dan rasa bosan itu, sadarilah bahwa hanya mereka-lah yang teman-teman punya. Tak ada keluarga, ayah, ibu, atau sahabat yang teman-teman punya di kampung halaman sana. Jadi, hanya ber-18 inilah harta teman-teman, places where you belong during the program. Homes when you feel like you are a minority. Senasib, sepenanggungan. Hanya ber-18 ini yang bisa merasakan perasaan senang, sedih, bangga, dan kecewa yang sama selama program. Maka, jagalah keutuhan tim. TEAMWORK IS REALLY IMPORTANT, in the name of Merciful God. Jika ada hal yang membuat teman-teman tak nyaman, utarakan dan jangan dipendam.

*******

Sekian dan terimakasih.

Hehe, nggak enak banget penutupnya. Jadi begitulah, semoga surat wasiat sepanjang 9 halaman ini bisa berguna buat teman-teman. Kalau ada yang belum jelas, tanyakanlah melalui milis 2009. Beberapa alumni juga bergabung dalam milis ini, jadi mungkin bisa menjawab pertanyaan teman-teman. Jangan biarkan diri teman-teman terjebak pada ketidakjelasan informasi dan berpikir “Baiklah, mungkin sudah ada orang lain yang memikirkan dan mendapat jalan keluarnya”. Sekali lagi, bergantunglah pada diri sendiri. Para alumni hanya bisa membimbing dan mengarahkan.

Yang pasti, nasib AIYEP 2009 ada di tangan teman-teman, sekaligus milik teman-teman. Maka, apapun yang teman-teman hadapi nantinya, just DIY. DO IT YOURWAY!

Spirit of PDT,

AIYEP 2008*2009


*Terima kasih buat Kakak-kakak alumni yang sudah mau berbagi...*