Kamis, 16 Februari 2012

The Tree of Life


Jika ada satu hal yang dapat dibuktikan oleh film-film seorang Terrence Malick seperti Days of Heaven (1978), The Thin Red Line (1998) dan The New World (2005) – selain fakta bahwa film ‘berkelas tinggi’ tidak datang dalam jangka waktu yang singkat – adalah para penonton tidak akan pernah dapat mengharapkan Malick bercerita secara lugas dalam setiap film-filmnya. Film-film Malick mampu untuk menggerakkan imajinasi dan emosi setiap penontonnya, namun tidak dengan deretan dialog maupun adegan yang terjadi antara setiap karakter di dalan jalan cerita film tersebut. Jalan pemikiran Malick terlalu ‘cerdas’ untuk dapat dibaca dengan mudah. Malick lebih memilih untuk bereksperimen lewat deretan gambar-gambar yang ia hadirkan untuk bercerita kemudian menghasilkan ribuan interpretasi tersendiri bagi para penontonnya.

Pun begitu, rasanya bahkan dengan berhasil menikmati film-film Malick sebelumnya tidak akan ada yang mampu benar-benar mempersiapkan penontonnya untuk dapat menyelami The Tree of Life, sebuah film Malick pertama semenjak The New World dirilis pada enam tahun lalu dan sebuah bukti lain bahwa Malick masih terus melakukan berbagai eksperimen dalam bercerita untuk setiap film-filmnya. Kembali bekerjasama dengan sinematografer Emmanuel Lubezki serta bantuan supervisi di departemen special effects oleh Douglas Trumbull – orang yang sama yang mengerjakan special effects di film 2001: A Space Odyssey (1968) karya Stanley Kubrick dan baru kembali mengerjakan tata efek di sebuah film setelah hampir tiga dekade absen dari Hollywood – Malick sekali lagi mengeksplorasi kemampuannya berbicara lewat deretan gambar. Dinilai secara visual, The Tree of Life akan mampu melangkahi berbagai ekspektasi dari sebuah film terbaik yang pernah dirilis Hollywood akhir-akhir ini. Sayangnya, konsep penceritaan yang coba disampaikan oleh Malick tidak pernah benar-benar dapat sampai di tingkat yang memuaskan akibat kurangnya fokus pada sisi penceritaan.

Seperti halnya film karya Michael Apted yang diproduseri oleh Malick, Amazing Grace (2006), The Tree of Life juga memiliki fokus cerita yang bersentuhan dengan sisi spiritualitas setiap manusia. Bahkan lebih dari itu, secara keseluruhan dari The Tree of Life adalah sebuah usaha Malick untuk menjelaskan pertanyaan Tuhan kepada manusia, seperti yang pernah dipertanyakan Tuhan kepada Nabi Ayub, yang Malick kutip dari Kitab Ayub – “Where were you when I laid the earth’s foundation … while the morning stars sang together and all the sons of God shouted for joy?” – dan ia letakkan di awal film. Di mulai dari konsep ini, Malick mulai menampilkan deretan karakter yang mempertanyakan setiap keputusan Tuhan sekaligus membandingkannya dengan ‘hasil kerja’ Tuhan yang luar biasa dan dapat dinikmati setiap umat-Nya secara bebas dalam kehidupan mereka.

Terdengar seperti sebuah film arthouse dengan kandungan jalan cerita yang terlalu berat? Sebenarnya tidak juga. Kalau mau dirunut sejak awal, The Tree of Life sebenarnya hanyalah kisah perjalanan sebuah keluarga dalam mengarungi kejamnya arus kehidupan. Ada kisah percintaan, pernikahan, kemarahan, kecemburuan, sibling rivalry, perbedaan pendapat dan berbagai hal alami yang selalu dihadapi setiap elemen dari sebuah keluarga. Cara Malick untuk menyampaikannyalah yang membuat kisah sederhana tersebut menjadi sebuah presentasi yang cukup kompleks. Alih-alih dengan menghadirkan deretan dialog dan adegan jelas yang terjadi antara setiap karakter yangada di dalam jalan cerita, Malick lebih memilih untuk membagi film ini kepada beberapa bagian dimana ia dapat memfokuskan setiap kisah pada seorang karakter. Karakter-karakter ini kemudian ‘membisikkan’ kata hati dan jalan pemikiran mereka di sepanjang film yang kemudian akan menjadi alat agar kisah mereka dapat terus berjalan.

Jalan cerita The Tree of Life sendiri berfokus pada kehidupan keluarga kecil yang dibina Mr O’Brien (Brad Pitt) dan Mrs O’Brien (Jessica Chastain). Dihadirkan dengan lini masa yang tidak beraturan, kisah keluarga O’Brien kemudian diwarnai dengan kehadiran tiga putera dalam keluarga tersebut, Jack (Hunter McCracken), R.L. (Laramie Eppler) dan Steve (Tye Sheridan). Sebagai orangtua, Mr O’Brien dan Mrs O’Brien memiliki cara pengasuhan anak yang berbeda satu sama lain. Sebagai ayah, Mr O’Brien hadir dengan karakteristik orangtua yang kaku, relijius dan menekankan betapa pentingnya untuk memenuhi setiap aturan yang ada pada ketiga puteranya. Sementara itu, Mrs O’Brien hadir sebagaimana layaknya ibu lainnya. Menuntun ketiga puteranya dengan penuh kasih sayang dan cinta yang dalam. Perbedaan cara pengasuhan ini yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan ketiga putera keluarga O’Brien, sekaligus membentuk lapisan drama lainnya dalam kehidupan ketiganya.

Sebagai putera tertua, Jack, yang sekaligus menjadi fokus utama pada kebanyakan bagian film ini, semakin merasakan tekanan yang besar dari cara ayahnya memperlakukan dirinya. Hal ini yang pula yang kemudian mempengaruhi hubungan antara dirinya dengan kedua saudaranya. Hubungan kakak-adik yang awalnya berjalan penuh kebahagiaan lantas mulai berkembang dengan penuh intrik dan rasa cemburu. Dalam sebuah lompatan waktu, The Tree of Life kemudian mengisahkan mengenai kematian salah satu putera di keluarga O’Brien. Kematian tersebut memberikan pengaruh yang besar pada setiap orang, khususnya pada diri Jack yang telah tumbuh dewasa (Sean Penn) dan diliputi dengan berbagai perasaan bersalah terhadap saudaranya yang telah meninggal lebih dulu. The Tree of Life kemudian beralih menjadi kisah mengenai bagaimana keluarga O’Brien berusaha untuk mengikhlaskan kepergian salah satu anggota keluarga mereka untuk kembali ke tangan Sang pencipta.

Dengan durasi sepanjang 139 menit, The Tree of Life serasa berusaha untuk memasukkan setiap fase kehidupan manusia dalam penceritaannya. Bahkan pada satu titik, ketika karakter Mrs O’Brien mempertanyakan bagaimana anaknya dapat hadir dan diberikan padanya, Malick berusaha menjawabnya dengan lebih jauh: menghadirkan bagaimana Tuhan menciptakan Bumi dan seluruh isinya. Adegan ini dipaparkan Malick pada kira-kira 20 menit setelah The Tree of Life berjalan, dan merupakan adegan yang siap untuk mempesona siapa saja yang menyaksikannya. Malick menghadirkan setiap tahap penciptaan Bumi dengan begitu detil – bahkan menghadirkan sebuah adegan kehidupan para dinosaurus yang mampu tampil begitu emosional. Ditambah dengan kehadiran tata musik arahan Alexandre Despat yang megah, adegan ini tampil begitu indah, begitu emosional, begitu puitis dan akan menjadi sebuah pengalaman tersendiri yang belum pernah dirasakan setiap penonton ketika mereka menyaksikan sebuah film.

Adegan penciptaan Bumi tersebut menjadi titik eksplorasi cerita tertinggi dalam The Tree of Life. Adegan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kembalinya fokus cerita pada kehidupan keluarga O’Brien. Sebuah drama yang sebenarnya jauh dari kesan istimewa. Namun lewat penyampaian dan proses editing Malick yang sangat intensif, setiap cerita hadir menjadi begitu puitis walau tanpa kehadiran banyaknya dialog dari setiap karakternya. Eksperimen Malick terhadap visual cerita kembali hadir di akhir kisah. Bagian dimana semua karakter berusaha untuk berdamai dengan keputusan Tuhan yang diberikan pada mereka… atau begitu yang akan dianggap oleh sebagian orang. Seperti visualisasi lainnya, bagian akhir kisah The Tree of Life memiliki begitu banyak ruang untuk dapat diinterpretasikan secara luas oleh penontonnya.

The Tree of Life sendiri bukanlah sebuah film yang dapat menjadi wadah untuk menampilkan kekuatan akting setiap pemerannya. Pun begitu, departemen akting film ini berhasil memberikan penampilan yang sangat memukau, khususnya datang dari Brad Pitt dan aktor muda pemeran Jack, Hunter McCracken. Jessica Chastain dan Sean Penn sendiri diberikan peran yang terlalu terbatas untuk dapat dinilai kapabilitasnya. Pun begitu, tidak ada satupun momen kehadiran mereka yang dapat membuat penonton menyangsikan kemampuan dan kedalaman akting yang mereka berikan guna menghidupkan karakter yang mereka perankan.

The Tree of Life jelas bukanlah film yang dapat dengan mudah diterima dan dicerna siapa saja. Pun begitu, jangkauan kisah yang dihadirkan film ini sama sekali tidak membatasi dirinya untuk dapat diterima oleh beberapa kalangan saja. Film ini merupakan sebuah ekplorasi Malick terhadap dunia spiritual yang luas, pertanyaan setiap manusia terhadap keputusan Sang Pencipta serta keinginan manusia untuk mengenal diri-Nya secara lebih mendalam. Sebuah bahan penceritaan yang akan lebih mudah untuk dipahami ketika setiap penontonnya membuka jalan pemikiran mereka dan membiarkan Malick untuk menghadirkan presentasi gambarnya yang akan sanggup memukau siapa saja. Walau secara keseluruhan konsep cerita yang ingin disampaikan Malick lewat The Tree of Life tidak pernah benar-benar dapat disajikan secara utuh akibat terlalu ambisiusnya kepuitisan penceritaan Malick, namun The Tree of Life adalah sebuah pengalaman yang seharusnya tidak boleh dilewatkan.

Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar